top of page

Preventive Maintenance dengan CMMS: Pengertian, Jenis, Contoh, dan Cara Membuat Jadwal

Writer: Mohammad Hafizh Alviendra
Mohammad Hafizh Alviendra
6 days ago
11 min read
Cover artikel yang membahas preventive maintenance dengan cmms

Quick Overview: Preventive maintenance merupakan pekerjaan terencana untuk membantu mengurangi kemungkinan kerusakan aset. CMMS membantu perusahaan menjadwalkan pekerjaan, membuat recurring work order, menyediakan checklist, menyimpan dokumentasi, dan memantau pekerjaan yang terlambat.

Preventive maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan secara terencana sebelum aset mengalami kerusakan. Kegiatannya dapat berupa inspeksi, pembersihan, pelumasan, pengujian, kalibrasi, penyetelan, atau penggantian komponen berdasarkan kalender maupun tingkat penggunaan aset.


Penerapan preventive maintenance menggunakan sistem CMMS membantu perusahaan menghubungkan jadwal perawatan dengan data aset, work order, penugasan teknisi, checklist, dokumentasi, dan riwayat pekerjaan dalam satu sistem.


Namun, penggunaan software tidak otomatis membuat preventive maintenance menjadi efektif. Perusahaan tetap perlu menentukan aset prioritas, aktivitas yang harus dilakukan, interval yang sesuai, penanggung jawab, standar penerimaan, dan metode evaluasinya.


Ringkasan Utama

  • Preventive maintenance dilakukan sebelum aset mengalami kerusakan.

  • Jadwal dapat dibuat berdasarkan kalender atau tingkat penggunaan aset.

  • Setiap aset membutuhkan aktivitas dan interval yang berbeda.

  • Preventive maintenance berbeda dengan corrective dan predictive maintenance.

  • Jadwal perlu dievaluasi menggunakan histori, kondisi, risiko, dan penggunaan aset.

  • CMMS menghubungkan jadwal dengan work order, teknisi, checklist, dan laporan.

  • Efektivitas program tetap bergantung pada kualitas data dan pelaksanaannya.


Apa Itu Preventive Maintenance?

illustrasi staff/teknisi melakukan preventive maintenance asset

Menurut IBM, preventive maintenance atau PM merupakan pendekatan maintenance proaktif untuk membantu mencegah kegagalan peralatan tidak terduga. Preventive maintenance termasuk planned maintenance karena pekerjaannya telah ditentukan sebelum dilaksanakan.


Preventive maintenance sebagai pendekatan yang melibatkan monitoring dan penjadwalan inspeksi, service, serta perbaikan untuk menangani potensi masalah sebelum berkembang menjadi gangguan.


Preventive maintenance tidak selalu berarti mengganti komponen. Aktivitasnya dapat meliputi:

  • Pemeriksaan kondisi.

  • Pembersihan.

  • Pelumasan.

  • Pengencangan.

  • Penyetelan.

  • Kalibrasi.

  • Pengujian fungsi.

  • Pencatatan hasil pengukuran.

  • Penggantian komponen.

  • Pemeriksaan sistem keselamatan.


Jenis pekerjaan harus disesuaikan dengan fungsi, kondisi, tingkat penggunaan, lingkungan, risiko, rekomendasi produsen, dan ketentuan yang berlaku untuk setiap aset.


Apa Tujuan Preventive Maintenance?

Tujuan preventive maintenance bukan menjamin bahwa aset tidak akan pernah mengalami kerusakan. Program maintenance tidak dapat menghilangkan seluruh kemungkinan kegagalan. Preventive maintenance digunakan untuk membantu perusahaan mencapai beberapa tujuan berikut.

  1. Mengurangi Risiko Gangguan Tidak Terencana

    Pemeriksaan rutin membantu tim menemukan indikasi keausan, kebocoran, kelonggaran, kontaminasi, atau kondisi abnormal sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

  2. Menjaga Kesiapan Operasional Aset

    Aset yang penting bagi operasional perlu dirawat agar dapat digunakan sesuai kebutuhan. Prioritas maintenance sebaiknya mempertimbangkan dampak apabila aset tersebut tidak tersedia.

  3. Mendukung Keselamatan Kerja

    Pekerjaan preventive maintenance dapat mencakup pemeriksaan pelindung, sambungan, sensor, alarm, emergency stop, dan komponen keselamatan lainnya.

    Pelaksanaannya harus mengikuti prosedur keselamatan, panduan produsen, dan regulasi yang berlaku.

  4. Menjaga Riwayat Pekerjaan

    Catatan maintenance membantu perusahaan mengetahui pekerjaan yang telah dilakukan, komponen yang diganti, kondisi yang ditemukan, dan tindakan yang diambil.

  5. Mendukung Perencanaan Sumber Daya

    Karena pekerjaan telah direncanakan, perusahaan dapat mempersiapkan teknisi, vendor, alat kerja, spare part, waktu, izin, dan akses lokasi sebelum pekerjaan dimulai.


Bagaimana Preventive Maintenance Bekerja?


Preventive maintenance sebaiknya dimulai dari data dan kebutuhan aset, bukan langsung membuat jadwal yang sama untuk seluruh peralatan.


Alur umumnya meliputi:

  1. Mendata aset dan lokasi.

  2. Menentukan tingkat kritikalitas.

  3. Mengidentifikasi risiko dan pola kegagalan.

  4. Menentukan aktivitas maintenance.

  5. Menetapkan pemicu atau interval.

  6. Menyusun jadwal dan penanggung jawab.

  7. Membuat checklist atau instruksi kerja.

  8. Menjalankan dan mendokumentasikan pekerjaan.

  9. Menindaklanjuti temuan.

  10. Mengevaluasi hasil serta menyesuaikan jadwal.


Dalam cara kerja CMMS, jadwal preventive maintenance dapat digunakan untuk membuat recurring work order yang berisi detail aset, aktivitas, prioritas, teknisi, target waktu, dan checklist pekerjaan.


Setelah pekerjaan selesai, teknisi mencatat hasil pemeriksaan dan tindakan yang dilakukan. Informasi tersebut kemudian disimpan sebagai bagian dari riwayat aset.


Apabila ditemukan kondisi abnormal, temuan dapat diteruskan menjadi corrective work order yang memiliki prioritas, penanggung jawab, target waktu, dan status penyelesaian.


Perbedaan Preventive, Corrective, dan Predictive Maintenance

Ketiga pendekatan tersebut memiliki dasar keputusan dan waktu pelaksanaan yang berbeda.

Pendekatan

Waktu Pelaksanaan

Dasar Keputusan

Contoh

Keterbatasan

Preventive maintenance

Sebelum terjadi kerusakan

Kalender, jam operasi, cycle, kilometer, atau interval tertentu

Pelumasan setiap 500 jam operasi

Dapat menyebabkan over-maintenance jika interval tidak dievaluasi

Corrective maintenance

Setelah masalah ditemukan

Laporan, inspeksi, atau kegagalan fungsi

Mengganti bearing setelah ditemukan kerusakan

Dapat mengganggu operasional jika tidak direncanakan

Predictive maintenance

Ketika data menunjukkan perubahan kondisi

Sensor, tren, analisis kondisi, dan data performa

Pemeriksaan berdasarkan tren getaran

Membutuhkan data dan kemampuan analisis yang sesuai

U.S. Department of Energy membedakan preventive maintenance sebagai tindakan yang umumnya berbasis waktu, sedangkan predictive maintenance menggunakan indikasi kondisi untuk menentukan kapan tindakan perlu dilakukan.


Perusahaan tidak harus menggunakan satu pendekatan untuk seluruh aset. Strategi maintenance dapat dibedakan berdasarkan kritikalitas, risiko, biaya, pola kegagalan, serta ketersediaan data.


Jenis-Jenis Preventive Maintenance

illustrasi teknisi melakukan preventive maintenance terhadap kelistrikan bangunan

Preventive maintenance dapat dibedakan berdasarkan pemicu yang digunakan untuk membuat pekerjaan.

  1. Time-Based Preventive Maintenance

    Time-based maintenance dijadwalkan berdasarkan kalender, misalnya:

    • Harian.

    • Mingguan.

    • Bulanan.

    • Setiap tiga bulan.

    • Setiap enam bulan.

    • Tahunan.

    Contohnya adalah pemeriksaan genset setiap bulan atau inspeksi panel listrik pada periode yang telah ditentukan. Pendekatan ini relatif mudah dijadwalkan. Namun, interval tetap perlu dievaluasi agar pekerjaan tidak dilakukan terlalu sering atau terlalu jarang.

  2. Usage-Based Preventive Maintenance

    Usage-based maintenance dipicu berdasarkan penggunaan aset, seperti:

    • Jam operasi.

    • Jumlah cycle.

    • Kilometer.

    • Jumlah produksi.

    • Frekuensi penggunaan.

    Contohnya adalah pelumasan setelah mesin mencapai jumlah jam operasi tertentu atau service kendaraan setelah mencapai kilometer yang ditentukan. Pendekatan ini lebih memperhatikan tingkat penggunaan aktual. Namun, perusahaan membutuhkan pencatatan meter atau data penggunaan yang konsisten.

  3. Apakah Condition-Based Maintenance Termasuk Preventive Maintenance?

    Condition-based maintenance memiliki pendekatan proaktif, tetapi pekerjaannya dipicu oleh kondisi aktual aset, bukan hanya jadwal tetap.

    Pemicu dapat berasal dari temperatur, getaran, tekanan, kualitas pelumas, kebocoran, atau indikator lain yang telah ditentukan.Sebagian organisasi memasukkannya sebagai bagian dari preventive maintenance. Kerangka lain memisahkannya sebagai strategi maintenance tersendiri.


Hal terpenting adalah perusahaan menggunakan definisi yang konsisten agar klasifikasi pekerjaan dan laporan dapat dipahami oleh seluruh tim.


CTA banner solution page CMMS

Contoh Preventive Maintenance

Berikut beberapa contoh preventive maintenance berdasarkan jenis aset.

Aset

Aktivitas

Trigger

Bukti Penyelesaian

Motor listrik

Memeriksa temperatur, suara, getaran, sambungan, dan kebersihan

Kalender atau jam operasi

Checklist dan hasil pengukuran

Gearbox

Memeriksa kebocoran, level pelumas, suara, dan kondisi housing

Jam operasi

Catatan kondisi dan foto

Pompa

Memeriksa tekanan, kebocoran, suara, getaran, dan sambungan

Kalender atau jam operasi

Hasil pengukuran dan checklist

Genset

Memeriksa fluida, baterai, kebocoran, panel, dan fungsi

Kalender atau jam operasi

Hasil pengujian dan foto

HVAC

Memeriksa filter, drain, belt, temperatur, dan kondisi unit

Kalender

Checklist dan dokumentasi

Kendaraan operasional

Memeriksa fluida, ban, rem, lampu, dan komponen lain

Kilometer atau kalender

Checklist service

Panel listrik

Memeriksa kondisi visual, kebersihan, indikator, dan sambungan

Kalender

Checklist dan catatan temuan

Sistem keselamatan

Memeriksa fungsi dan kondisi komponen sesuai ketentuan

Kalender atau regulasi

Hasil pengujian dan laporan

Contoh tersebut tidak dapat langsung digunakan sebagai rekomendasi interval. Aktivitas dan frekuensi aktual harus mengikuti manual produsen, regulasi, kondisi, risiko, penggunaan, dan kebijakan perusahaan.


Cara Membuat Jadwal Preventive Maintenance

Jadwal preventive maintenance harus menjelaskan aset yang dirawat, aktivitas yang dilakukan, waktu pelaksanaan, penanggung jawab, serta bukti yang diperlukan.

  1. Buat Daftar Aset

    Catat informasi dasar aset, seperti:

    • Nama dan kode aset.

    • Lokasi.

    • Tipe dan model.

    • Nomor seri.

    • Produsen.

    • Tanggal pemasangan.

    • Kondisi.

    • Jam operasi atau meter.

    • Manual.

    • Riwayat maintenance.

    Implementasi dapat dimulai dari aset prioritas tanpa harus menunggu seluruh data perusahaan lengkap.

  2. Tentukan Tingkat Kritikalitas

    Kritikalitas membantu perusahaan menentukan aset yang perlu diprioritaskan.

    Pertimbangkan dampak kerusakan terhadap:

    • Keselamatan.

    • Operasional.

    • Kualitas.

    • Lingkungan.

    • Ketersediaan layanan.

    • Biaya.

    • Kepatuhan.

    • Aset lain yang bergantung pada peralatan tersebut.

    Metode penilaiannya perlu dibuat sederhana, jelas, dan digunakan secara konsisten.

  3. Periksa Rekomendasi Produsen

    Manual produsen dapat menyediakan informasi mengenai aktivitas, komponen, fluida, toleransi, dan interval service.

    Rekomendasi tersebut tetap perlu disesuaikan dengan tingkat penggunaan, lingkungan, kondisi aktual, regulasi, dan pengalaman operasional.

  4. Analisis Riwayat Maintenance

    Periksa informasi seperti:

    • Frekuensi kerusakan.

    • Jenis masalah.

    • Komponen yang sering diganti.

    • Waktu tidak beroperasi.

    • Temuan inspeksi.

    • Penggunaan spare part.

    • Durasi perbaikan.

    • Kondisi setelah maintenance.

    Riwayat membantu tim menentukan apakah jadwal sebelumnya terlalu cepat, terlambat, atau belum menyentuh penyebab masalah.

  5. Tentukan Aktivitas yang Diperlukan

    Setiap jadwal preventive maintenance harus memiliki task list yang jelas.

    Hindari instruksi terlalu umum seperti “periksa mesin”. Jelaskan komponen, kondisi, nilai, dan hasil yang harus dicatat.

    Contoh instruksi yang lebih jelas:

    • Periksa level pelumas.

    • Catat temperatur bearing.

    • Periksa kebocoran pada sambungan.

    • Bersihkan filter.

    • Uji fungsi emergency stop.

    • Catat kondisi dan unggah foto.

  6. Pilih Trigger

    Tentukan apakah pekerjaan dipicu berdasarkan:

    • Kalender.

    • Jam operasi.

    • Kilometer.

    • Cycle.

    • Jumlah produksi.

    • Kriteria penggunaan lainnya.

    Tidak ada satu interval yang sesuai untuk seluruh aset.

  7. Tentukan Sumber Daya

    Catat kebutuhan pelaksanaan seperti:

    • Teknisi.

    • Kompetensi.

    • Alat kerja.

    • Alat ukur.

    • Spare part.

    • Material.

    • Vendor.

    • Izin kerja.

    • Prosedur keselamatan.

    • Estimasi durasi.

    Persiapan tersebut membantu mengurangi kemungkinan pekerjaan tertunda karena sumber daya belum tersedia.

  8. Tetapkan Jadwal dan PIC

    Tentukan tanggal atau periode pelaksanaan serta teknisi, tim, atau vendor yang bertanggung jawab.

    Jadwal perlu mempertimbangkan shift, production schedule, akses lokasi, ketersediaan spare part, dan pekerjaan lain yang sedang berlangsung.

  9. Tentukan Bukti Penyelesaian

    Bukti pekerjaan dapat berupa:

    • Checklist.

    • Hasil pengukuran.

    • Catatan teknisi.

    • Foto.

    • Komponen yang diganti.

    • Waktu mulai dan selesai.

    • Verifikasi supervisor.

    Work order tidak sebaiknya ditutup hanya karena statusnya telah diubah menjadi selesai.

  10. Kelola Jadwal Menggunakan CMMS

    Illustrasi penggunaan work order menggunakan inspekly

    Jadwal yang telah disusun dapat dikelola melalui software CMMS Inspekly agar setiap pekerjaan memiliki work order, PIC, status, checklist, dan bukti penyelesaian yang dapat ditelusuri.

    Penggunaan CMMS membantu mengurangi ketergantungan pada file terpisah. Namun, data dan konfigurasi sistem tetap harus diperiksa agar sesuai dengan proses perusahaan.

  11. Evaluasi Jadwal Secara Berkala

    Jadwal perlu ditinjau kembali ketika:

    • Masalah yang sama terus berulang.

    • Tidak pernah ditemukan masalah selama beberapa periode.

    • Kondisi operasi berubah.

    • Tingkat penggunaan meningkat atau menurun.

    • Prosedur diperbarui.

    • Terdapat rekomendasi baru dari produsen.

    • Komponen atau konfigurasi aset berubah.


Evaluasi membantu menjaga aktivitas maintenance tetap relevan dengan kondisi aktual.


Contoh Jadwal Preventive Maintenance

Berikut format sederhana yang dapat digunakan sebagai titik awal.

Aset

Lokasi

Aktivitas

Trigger

Frekuensi

PIC

Durasi

Bukti

Jadwal Berikutnya

Genset 01

Utility Room

Pemeriksaan fluida, baterai, kebocoran, dan fungsi

Kalender

Bulanan

Teknisi A

60 menit

Checklist dan foto

5 Oktober 2026

Pump 02

Pump Room

Pemeriksaan tekanan, kebocoran, getaran, dan sambungan

Jam operasi

500 jam

Teknisi B

45 menit

Hasil pengukuran

Mengikuti meter

HVAC 03

Lantai 2

Pemeriksaan filter, drain, temperatur, dan kondisi unit

Kalender

Bulanan

Teknisi C

30 menit

Checklist dan foto

12 Oktober 2026

Data dalam tabel tersebut merupakan ilustrasi format, bukan rekomendasi interval untuk seluruh aset.


Apa Saja Isi Preventive Maintenance Checklist?

Checklist membantu teknisi menjalankan pekerjaan dan mencatat hasilnya secara konsisten.

  1. Identitas Pekerjaan

    • Nomor work order.

    • Nama dan kode aset.

    • Lokasi.

    • Tanggal.

    • Nama teknisi.

    • Jenis pekerjaan.

  2. Prosedur Keselamatan

    • Alat pelindung diri.

    • Isolasi energi.

    • Izin kerja.

    • Kondisi area.

    • Potensi bahaya.

    • Konfirmasi langkah keselamatan.

    Isi prosedur perlu disesuaikan dengan risiko pekerjaan dan kebijakan perusahaan.

  3. Daftar Pemeriksaan

    Setiap item dapat menggunakan format hasil seperti:

    • Sesuai atau tidak sesuai.

    • Normal atau abnormal.

    • Nilai pengukuran.

    • Batas penerimaan.

    • Catatan kondisi.

    • Foto.

  4. Tindakan dan Temuan

    • Tindakan yang dilakukan.

    • Komponen yang diganti.

    • Temuan tambahan.

    • Rekomendasi.

    • Kebutuhan tindak lanjut.

    • Corrective work order.

  5. Verifikasi

    • Status pekerjaan.

    • Nama pemeriksa.

    • Tanggal verifikasi.

    • Catatan supervisor.

    • Persetujuan penutupan.


Checklist digital dalam CMMS membantu menghubungkan hasil pemeriksaan dengan work order dan riwayat aset. Dengan demikian, hasil pekerjaan tidak hanya tersimpan sebagai formulir terpisah.


KPI Preventive Maintenance yang Dapat Dipantau

KPI membantu perusahaan mengevaluasi pelaksanaan dan efektivitas program. Pilih metrik yang benar-benar dapat ditindaklanjuti.

  1. PM Compliance

    PM compliance mengukur persentase preventive maintenance yang selesai tepat waktu.

    PM Compliance (%) = PM selesai tepat waktu ÷ PM yang jatuh tempo × 100

    Perusahaan perlu menetapkan definisi “tepat waktu”, termasuk tolerance window yang digunakan.

  2. Overdue Preventive Maintenance

    Metrik ini menunjukkan jumlah pekerjaan yang telah melewati jadwal tetapi belum selesai.

    Data dapat dilihat berdasarkan kritikalitas, lokasi, PIC, dan usia keterlambatan.

  3. Planned vs Unplanned Work

    Metrik ini membandingkan pekerjaan yang telah direncanakan dengan pekerjaan tidak terencana.

    Corrective work tidak selalu dapat dihilangkan. Hasilnya perlu dianalisis berdasarkan konteks operasional dan jenis aset.

  4. Repeat Failure

    Repeat failure menunjukkan masalah yang kembali terjadi pada aset atau komponen yang sama.

    Temuan tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas pekerjaan, interval maintenance, kondisi operasi, desain, atau penyebab lain.

  5. Temuan yang Belum Ditindaklanjuti

    Temuan preventive maintenance perlu diubah menjadi tugas yang memiliki PIC, prioritas, target waktu, dan status.

  6. Kelengkapan Dokumentasi

    Metrik ini menilai apakah work order telah dilengkapi checklist, hasil pengukuran, catatan, foto, dan verifikasi sesuai kebutuhan.


Dashboard CMMS dapat membantu mengumpulkan data tersebut. Namun, kualitas KPI tetap bergantung pada kelengkapan dan konsistensi pencatatan pengguna.


Kesalahan dalam Menjalankan Preventive Maintenance

  1. Menggunakan Jadwal yang Sama untuk Seluruh Aset

    Setiap aset memiliki fungsi, kondisi, tingkat penggunaan, dan risiko berbeda. Menyamakan interval dapat membuat pekerjaan terlalu sering atau terlambat.

  2. Melakukan Over-Maintenance

    Maintenance yang terlalu sering dapat meningkatkan jumlah pekerjaan, penggunaan komponen, dan waktu penghentian tanpa manfaat yang sebanding.

  3. Menggunakan Checklist Terlalu Umum

    Instruksi seperti “cek kondisi” tidak menjelaskan komponen yang diperiksa, acceptance criteria, atau bukti yang dibutuhkan.

  4. Menutup Work Order Tanpa Dokumentasi

    Status selesai tidak cukup untuk menjelaskan tindakan, kondisi, dan hasil pekerjaan.

  5. Tidak Menindaklanjuti Temuan

    Temuan yang hanya tersimpan sebagai catatan tidak membantu apabila tidak memiliki penanggung jawab dan target penyelesaian.

  6. Tidak Memperbarui Prosedur

    Checklist perlu diperbarui ketika terjadi perubahan aset, rekomendasi produsen, pola kerusakan, regulasi, atau kondisi operasional.

  7. Tidak Melibatkan Teknisi

    Teknisi memahami kondisi lapangan dan kendala pelaksanaan. Masukan mereka membantu membuat jadwal lebih realistis.

  8. Menganggap CMMS Dapat Memperbaiki Semua Masalah

    CMMS mendukung proses maintenance, tetapi tidak menggantikan kompetensi teknisi, prosedur yang tepat, kualitas data, dan pengawasan.


Bagaimana CMMS Membantu Preventive Maintenance?

CTA Banner contact us konten CMMS

CMMS atau Computerized Maintenance Management System membantu perusahaan menghubungkan data aset dengan aktivitas maintenance.


Dalam preventive maintenance, CMMS dapat digunakan untuk:

  • Menyimpan data dan hierarki aset.

  • Membuat jadwal maintenance berulang.

  • Menghasilkan recurring work order.

  • Menugaskan teknisi.

  • Menyediakan checklist digital.

  • Mengirimkan notifikasi.

  • Menampilkan pekerjaan overdue.

  • Menyimpan foto dan hasil pengukuran.

  • Menghubungkan temuan dengan corrective work order.

  • Memperbarui riwayat aset.

  • Menampilkan laporan dan KPI.


Sebagai contoh, ketika jadwal pemeriksaan pompa tiba, CMMS dapat membuat work order yang berisi lokasi, daftar pemeriksaan, teknisi, dan target penyelesaian.


Teknisi kemudian mencatat tekanan, getaran, kebocoran, kondisi komponen, dan foto. Jika ditemukan masalah, temuan dapat dibuat menjadi corrective work order dan dipantau sampai selesai.


Preventive Maintenance dengan CMMS Inspekly

Inspekly merupakan platform CMMS dan EAM yang menggabungkan work order, aplikasi mobile, Digital Twin, dan teknologi Augmented Reality. Melalui CMMS Inspekly dari Netmarks Indonesia, perusahaan dapat mengelola aktivitas seperti:

  • Penjadwalan pekerjaan rutin.

  • Work order management.

  • Checklist digital.

  • Informasi dan riwayat aset.

  • Dokumentasi foto.

  • QR atau NFC checkpoint.

  • Panduan visual berbasis AR.

  • Monitoring pekerjaan melalui dashboard.

Konfigurasi sistem perlu disesuaikan dengan jenis aset, lokasi, pengguna, prosedur, dan kebutuhan operasional perusahaan.


CMMS membantu mengelola proses dan dokumentasi. Perusahaan tetap bertanggung jawab menentukan aktivitas, interval, standar teknis, kompetensi, dan prosedur keselamatan.


Kesimpulan

Preventive maintenance adalah pekerjaan terencana yang dilakukan sebelum aset mengalami kerusakan. Jadwalnya dapat dibuat berdasarkan kalender atau penggunaan seperti jam operasi, cycle, dan kilometer.

Program yang efektif membutuhkan data aset, penentuan kritikalitas, task list, trigger, jadwal, PIC, sumber daya, checklist, dokumentasi, dan evaluasi berkala.


Penerapan preventive maintenance dengan CMMS membantu menghubungkan proses tersebut dengan work order, teknisi, histori aset, dan laporan dalam satu sistem.

Teknologi tetap harus didukung oleh prosedur yang tepat, data berkualitas, kompetensi teknisi, dan pelaksanaan yang konsisten.


Pertanyaan yang Sering Diajukan

  1. Apa yang Dimaksud dengan Preventive Maintenance?

    Preventive maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan secara terencana sebelum aset mengalami kerusakan. Pekerjaannya dapat dipicu berdasarkan kalender atau tingkat penggunaan.

  2. Apa Tujuan Preventive Maintenance?

    Tujuannya adalah membantu mengurangi risiko kerusakan tidak terencana, menjaga kesiapan aset, mendukung keselamatan, dan menyediakan riwayat pekerjaan untuk evaluasi.

  3. Apa Saja Jenis Preventive Maintenance?

    Dua jenis yang umum digunakan adalah time-based maintenance berdasarkan kalender dan usage-based maintenance berdasarkan jam operasi, cycle, kilometer, atau tingkat penggunaan lainnya.

  4. Apa Contoh Preventive Maintenance?

    Contohnya meliputi pelumasan mesin berdasarkan jam operasi, pemeriksaan genset, pemeriksaan filter HVAC, inspeksi pompa, dan service kendaraan berdasarkan kilometer.

  5. Apa Perbedaan Preventive dan Corrective Maintenance?

    Preventive maintenance dilakukan sebelum kerusakan berdasarkan jadwal, sedangkan corrective maintenance dilakukan setelah masalah atau kerusakan ditemukan.

  6. Apa Perbedaan Preventive dan Predictive Maintenance?

    Preventive maintenance biasanya menggunakan interval yang telah ditentukan. Predictive maintenance menggunakan data kondisi dan analisis untuk memperkirakan kapan tindakan diperlukan.

  7. Bagaimana Cara Menentukan Jadwal Preventive Maintenance?

    Jadwal ditentukan berdasarkan rekomendasi produsen, kritikalitas, penggunaan, kondisi, lingkungan, regulasi, histori kerusakan, dan ketersediaan sumber daya.

  8. Apakah Preventive Maintenance Dapat Mencegah Semua Kerusakan?

    Tidak. Preventive maintenance membantu mengurangi kemungkinan kerusakan, tetapi tidak dapat menghilangkan seluruh risiko kegagalan.

  9. Bagaimana CMMS Membantu Preventive Maintenance?

    CMMS membantu menyimpan data aset, membuat jadwal berulang, menghasilkan work order, menyediakan checklist, menyimpan dokumentasi, dan memantau pekerjaan yang terlambat.


Kelola Preventive Maintenance dengan CMMS Inspekly

Apakah jadwal preventive maintenance perusahaan Anda masih dikelola melalui kertas, spreadsheet, atau percakapan terpisah? Bawa satu contoh jadwal atau checklist yang saat ini digunakan. Tim Netmarks Indonesia dapat membantu memetakan prosesnya dan menunjukkan bagaimana pekerjaan tersebut dapat dikelola melalui CMMS Inspekly.


Pelajari bagaimana CMMS Inspekly dapat membantu perusahaan mengelola jadwal preventive maintenance, recurring work order, checklist digital, dan riwayat aset.



Referensi

Comments


OUR OFFICE

HEAD OFFICE JAKARTA

Komplek Griya Inti Sentosa Jalan Griya Agung Blok M3, No 32-33 Jakarta Utara 14350, Indonesia

MENU

SUPPORT OFFICE CIKARANG

Ruko Cikarang Square  Jl. Raya Cikarang - Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat 17530

BRANCH OFFICE SIDOARJO

Ruko Suncity Jl. Pahlawan No. 1 Blk B-11, Sidokumpul , Sidoarjo 61212

BRANCH OFFICE BATAM

Kawasan industri tunas bizpark, Blk. E No.10, Belian, Kec. Batam Kota, Kota Batam, Kepulauan Riau 29444

SUPPORT OFFICE LOMBOK

Jl. Pemuda No.28, Dasan Agung Baru, Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. 83125.

CONTACT US

Netmarks Indonesia logo, representing the company's commitment to providing high-quality IT solutions and services to businesses.

PT NETMARKS INDONESIA

We are here, on Customer's side

ISO 9001:2015 certification logo, signifying Netmarks Indonesia's adherence to international quality management standards.
ISO 27001:2022 certification logo, indicating Netmarks Indonesia's compliance with information security management standards

FOLLOW US

  • TikTok
  • Linkedin
  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter
  • YouTube
  • Spotify

©2025 by PT NETMARKS INDONESIA

bottom of page