KPI Maintenance: 10 Indikator Penting, Rumus, dan Cara Monitoring dengan CMMS


KPI maintenance adalah indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja aktivitas pemeliharaan, mulai dari reliability aset, durasi perbaikan, downtime, hingga konsistensi pelaksanaan pekerjaan maintenance.
Beberapa indikator yang umum digunakan dalam konteks maintenance antara lain Mean Time Between Failures (MTBF), Mean Time to Repair (MTTR), equipment availability, downtime, preventive maintenance compliance, maintenance backlog, dan Overall Equipment Effectiveness (OEE).
Namun, tujuan monitoring bukan mengumpulkan sebanyak mungkin angka. KPI sebaiknya dipilih berdasarkan pertanyaan operasional yang ingin dijawab dan dihitung menggunakan data yang konsisten.
National Institute of Standards and Technology (NIST) menjelaskan bahwa KPI digunakan untuk merefleksikan performa operasi dan mendukung proses continuous improvement. NIST juga menunjukkan bahwa data dari maintenance work order dapat digunakan untuk mengembangkan maintenance KPI.
Apa Itu KPI Maintenance?

KPI maintenance adalah Key Performance Indicator yang digunakan untuk mengevaluasi apakah aktivitas maintenance mendukung target operasional yang telah ditetapkan.
KPI dapat membantu tim maintenance menjawab pertanyaan seperti:
Seberapa sering aset mengalami failure?
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki aset?
Berapa lama aset tidak tersedia untuk digunakan?
Apakah preventive maintenance berjalan sesuai rencana?
Apakah pekerjaan maintenance semakin menumpuk?
Apakah performa aset membaik dari periode sebelumnya?
ISO 22400 menyediakan kerangka industry-neutral untuk mendefinisikan, menyusun, dan menggunakan KPI dalam manufacturing operations management. Standar tersebut juga menekankan bahwa KPI memiliki elemen, formula, unit atau dimensi, serta konteks penggunaan yang perlu didefinisikan secara jelas.
Artinya, angka KPI hanya akan bermanfaat jika perusahaan memahami apa yang diukur, dari data mana angka diperoleh, dan keputusan apa yang ingin didukung oleh indikator tersebut.
Jangan Mulai dari KPI, Mulai dari Pertanyaannya
Salah satu kesalahan dalam monitoring maintenance adalah langsung membuat dashboard dengan banyak indikator tanpa menentukan masalah yang ingin dianalisis. Pendekatan yang lebih praktis adalah memulai dari pertanyaan operasional.
Pertanyaan Maintenance | KPI yang Dapat Dipertimbangkan |
Seberapa sering aset mengalami failure? | MTBF |
Seberapa cepat aset dipulihkan setelah failure? | MTTR |
Seberapa siap aset digunakan? | Availability |
Berapa lama aset tidak beroperasi? | Downtime |
Apakah preventive maintenance berjalan sesuai jadwal? | PM Compliance |
Apakah pekerjaan maintenance mulai menumpuk? | Maintenance Backlog |
Apakah pekerjaan lebih banyak terencana atau reaktif? | Planned Maintenance Percentage |
Apakah pekerjaan yang direncanakan selesai sesuai jadwal? | Schedule Compliance |
Berapa biaya yang dikeluarkan untuk maintenance? | Maintenance Cost |
Seberapa efektif equipment produksi digunakan? | OEE |
Tidak semua perusahaan perlu memantau seluruh indikator tersebut.
Jenis aset, criticality, proses produksi, target bisnis, serta kualitas data yang tersedia akan memengaruhi KPI mana yang paling relevan.
1. Mean Time Between Failures (MTBF)
Mean Time Between Failures atau MTBF menunjukkan rata-rata waktu operasi di antara failure pada aset yang dapat diperbaiki dan digunakan kembali.
Secara sederhana:
MTBF = Total Waktu Operasi ÷ Jumlah Failure
Contoh:
Sebuah mesin mencatat total waktu operasi 1.000 jam dalam periode pengamatan dan mengalami 4 failure.
MTBF = 1.000 ÷ 4 = 250 jam
Artinya, berdasarkan data pada periode tersebut, rata-rata waktu operasi di antara failure adalah sekitar 250 jam.
MTBF dapat digunakan untuk melihat perubahan reliability dari waktu ke waktu.
Namun, MTBF sebaiknya tidak dibaca sendirian. Definisi failure, operating time, jenis aset, serta kondisi operasi perlu dibuat konsisten agar perbandingan antarperiode tetap relevan.
2. Mean Time to Repair (MTTR)
Mean Time to Repair atau MTTR menunjukkan rata-rata waktu yang digunakan untuk melakukan repair dan memulihkan equipment setelah failure.
Rumus sederhananya:
MTTR = Total Waktu Repair ÷ Jumlah Repair
Contoh:
Empat kejadian failure membutuhkan total repair time sebesar 20 jam.
MTTR = 20 ÷ 4 = 5 jam
Artinya, rata-rata waktu perbaikan pada periode tersebut adalah lima jam per kejadian.
MTTR dapat membantu tim mengevaluasi proses pemulihan aset.
Jika MTTR meningkat, beberapa hal yang dapat ditinjau antara lain:
proses diagnosis,
ketersediaan teknisi,
spare part,
akses ke prosedur kerja,
koordinasi antarteam,
hingga proses approval
.
Namun, MTTR yang rendah juga tidak otomatis berarti maintenance efektif. Perbaikan yang cepat tetapi tidak menyelesaikan penyebab utama dapat menghasilkan recurring failure. Karena itu, MTTR sebaiknya dianalisis bersama failure history dan reliability aset.
3. Equipment Availability
Equipment availability menunjukkan seberapa besar waktu equipment tersedia untuk digunakan sesuai kebutuhan operasi.
Salah satu pendekatan availability yang menggunakan MTBF dan MTTR adalah:
Availability = MTBF ÷ (MTBF + MTTR) × 100%
Misalnya:
MTBF = 250 jamMTTR = 5 jam
Maka:
Availability = 250 ÷ (250 + 5) × 100% = 98,04%
Angka tersebut menunjukkan availability berdasarkan parameter MTBF dan MTTR yang digunakan.
Perusahaan tetap perlu menetapkan definisi waktu yang konsisten karena planned shutdown, standby, changeover, dan unplanned downtime dapat diperlakukan berbeda tergantung konteks operasional.
4. Downtime
Downtime adalah periode ketika aset atau equipment tidak dapat menjalankan fungsi operasional yang diharapkan.
Secara umum, downtime dapat dibedakan menjadi:
Planned Downtime
Waktu berhenti yang memang direncanakan, misalnya untuk maintenance terjadwal atau aktivitas operasional tertentu.
Unplanned Downtime
Waktu berhenti yang terjadi di luar rencana, misalnya akibat equipment failure.
Contoh:
Dalam satu bulan sebuah mesin mengalami tiga kejadian unplanned downtime:
2 jam
4 jam
3 jam
Total unplanned downtime:
2 + 4 + 3 = 9 jam
Namun, total downtime saja belum menjelaskan penyebab masalah.
Analisis akan lebih berguna jika data tersebut dapat dihubungkan dengan:
aset,
failure yang terjadi,
waktu kejadian,
work order,
tindakan perbaikan,
serta histori maintenance sebelumnya.
5. Preventive Maintenance Compliance
Preventive Maintenance Compliance atau PM Compliance digunakan untuk melihat seberapa konsisten pekerjaan preventive maintenance dilaksanakan sesuai rencana yang telah ditetapkan.
Contoh pendekatan sederhananya:
PM Compliance = PM Selesai Sesuai Jadwal ÷ Total PM Terjadwal × 100%
Misalnya terdapat 100 pekerjaan preventive maintenance yang dijadwalkan dalam periode tertentu dan 92 pekerjaan selesai sesuai kriteria waktu yang ditetapkan.
PM Compliance = 92 ÷ 100 × 100% = 92%
Perusahaan perlu menentukan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan “selesai sesuai jadwal” agar perhitungan konsisten.PM Compliance yang tinggi juga tidak otomatis membuktikan bahwa program preventive maintenance sudah efektif.
Jika failure tetap meningkat meskipun pekerjaan rutin selalu selesai, tim perlu mengevaluasi kembali task, interval, metode inspeksi, serta kondisi aset.
Untuk memahami prosesnya lebih lanjut, baca juga Preventive Maintenance dengan CMMS di Netmarks Indonesia.
6. Planned Maintenance Percentage
Planned Maintenance Percentage membantu menunjukkan proporsi aktivitas maintenance yang dilakukan melalui pekerjaan terencana dibandingkan dengan keseluruhan waktu maintenance.
Contoh perhitungan:
Planned Maintenance Percentage = Planned Maintenance Hours ÷ Total Maintenance Hours × 100%
Misalnya:
Planned maintenance = 320 jamTotal maintenance = 400 jam
Maka:
320 ÷ 400 × 100% = 80%
KPI ini dapat membantu perusahaan melihat kecenderungan aktivitas maintenance.
Jika sebagian besar sumber daya selalu digunakan untuk emergency atau reactive maintenance, tim dapat meninjau penyebabnya dan mengevaluasi strategi maintenance yang digunakan.
Tidak ada satu angka universal yang otomatis berarti “baik” untuk seluruh perusahaan. Tren dan konteks operasional lebih penting dibanding mengejar benchmark tanpa memahami kondisi aset.
7. Maintenance Backlog
Maintenance backlog adalah pekerjaan maintenance yang telah diketahui atau direncanakan tetapi belum diselesaikan.
Backlog dapat dianalisis dari beberapa sisi:
jumlah work order terbuka,
umur work order,
tingkat prioritas,
estimasi jam pekerjaan,
jenis pekerjaan,
serta kapasitas tenaga maintenance.
Salah satu cara melihat backlog berdasarkan kapasitas adalah:
Backlog Weeks = Total Estimasi Jam Backlog ÷ Kapasitas Maintenance per Minggu
Contoh:
Total pekerjaan tertunda = 600 jamKapasitas maintenance = 200 jam per minggu
Backlog = 600 ÷ 200 = 3 minggu
Backlog tidak selalu harus nol.
Perusahaan dapat memiliki pekerjaan yang memang dijadwalkan untuk periode mendatang. Hal yang lebih penting adalah mengetahui apakah pekerjaan kritis terus tertunda dan apakah backlog tumbuh lebih cepat daripada kemampuan tim menyelesaikannya.
8. Schedule Compliance
Schedule Compliance menunjukkan seberapa banyak pekerjaan yang telah dijadwalkan dapat diselesaikan sesuai schedule yang ditetapkan.
Contoh pendekatannya:
Schedule Compliance = Pekerjaan Terjadwal yang Selesai Sesuai Kriteria ÷ Total Pekerjaan Terjadwal × 100%
Misalnya:
50 pekerjaan dijadwalkan.42 memenuhi kriteria penyelesaian yang telah ditentukan.
42 ÷ 50 × 100% = 84%
Schedule Compliance dapat membantu mengidentifikasi masalah seperti:
pekerjaan emergency terlalu banyak,
jadwal tidak realistis,
material belum tersedia,
tenaga kerja tidak mencukupi,
atau scope pekerjaan berubah.
Karena itu, nilai compliance sebaiknya tidak langsung digunakan untuk menilai produktivitas teknisi tanpa memahami penyebab pekerjaan tidak selesai sesuai rencana.
9. Maintenance Cost
Maintenance Cost menunjukkan biaya yang digunakan untuk menjaga aset tetap beroperasi dan menjalankan aktivitas maintenance.
Komponen yang dianalisis dapat mencakup:
labor,
spare part,
external service,
consumable,
emergency repair,
dan komponen biaya lain sesuai kebijakan perusahaan.
Biaya dapat dianalisis dalam berbagai bentuk, misalnya:
Maintenance Cost per Asset
Maintenance Cost per Operating Hour
Maintenance Cost per Unit Production
Tidak semua perusahaan harus menggunakan metode yang sama. Yang lebih penting adalah menjaga definisi biaya konsisten agar perubahan antarperiode dapat dibandingkan.
Kenaikan biaya juga tidak otomatis menunjukkan performa maintenance memburuk. Investasi pada planned maintenance atau penggantian komponen tertentu dapat meningkatkan biaya pada satu periode tetapi dilakukan untuk mengurangi risiko operasional berikutnya.
10. Overall Equipment Effectiveness (OEE)
Overall Equipment Effectiveness atau OEE digunakan terutama dalam konteks manufaktur untuk melihat efektivitas equipment berdasarkan availability, performance, dan quality.
Secara umum:
OEE = Availability × Performance × Quality
Contoh:
Availability = 90%Performance = 95%Quality = 98%
Maka:
OEE = 0,90 × 0,95 × 0,98 = 83,79%
OEE tidak hanya dipengaruhi aktivitas maintenance.
Performance dan quality dapat dipengaruhi oleh proses produksi, material, operator, operating condition, dan faktor lainnya.
Karena itu, untuk analisis maintenance, OEE sebaiknya dilihat bersama indikator yang lebih spesifik seperti downtime, MTBF, MTTR, atau failure history. ISO 22400 merupakan salah satu referensi internasional yang membahas KPI dalam manufacturing operations management, termasuk penggunaan formula, elemen, unit, serta karakteristik KPI.
Contoh Perhitungan KPI Maintenance

Misalnya sebuah pompa memiliki catatan selama satu periode:
Data | Nilai |
Waktu operasi | 1.000 jam |
Jumlah failure | 4 |
Total repair time | 20 jam |
PM terjadwal | 25 pekerjaan |
PM selesai sesuai kriteria jadwal | 23 pekerjaan |
Dari data tersebut:
MTBF
1.000 ÷ 4 = 250 jam
MTTR
20 ÷ 4 = 5 jam
Availability
250 ÷ (250 + 5) × 100% = 98,04%
PM Compliance
23 ÷ 25 × 100% = 92%
Sekarang perusahaan mempunyai empat angka. Tetapi apakah pompa tersebut memiliki performa maintenance yang baik? Belum tentu dapat disimpulkan hanya dari angka tersebut.
MTBF 250 jam, misalnya, perlu dibandingkan dengan histori aset, operating condition, failure mode, criticality, atau aset sejenis yang memang comparable. Karena itu, tren dan konteks biasanya lebih berguna daripada melihat satu nilai KPI secara terpisah.
Dari Mana Data KPI Maintenance Berasal?
Rumus maintenance KPI relatif mudah dihitung. Tantangan yang lebih besar adalah mendapatkan data yang lengkap, konsisten, dan dapat ditelusuri.
NIST dalam penelitian Developing Maintenance Key Performance Indicators from Maintenance Work Order Data menjelaskan bahwa maintenance work order dapat mencatat informasi seperti:
masalah yang terjadi,
solusi atau pekerjaan yang dilakukan,
mesin yang mengalami masalah,
teknisi yang menangani pekerjaan,
waktu kejadian,
serta informasi maintenance lainnya.
Data tersebut dapat digunakan sebagai basis analisis maintenance dan pengembangan KPI.
Artinya, KPI tidak berdiri sendiri.
Untuk menghitung dan menganalisisnya, perusahaan dapat membutuhkan data dari:
Asset Record
Menunjukkan equipment atau aset mana yang terkait dengan aktivitas maintenance.
Work Order
Mencatat pekerjaan yang perlu dilakukan, status, penanggung jawab, prioritas, dan informasi penyelesaian.
Failure History
Memberikan catatan mengenai failure yang pernah terjadi pada aset.
Downtime Record
Mendokumentasikan periode ketika aset tidak tersedia untuk operasi.
Preventive Maintenance Schedule
Menunjukkan pekerjaan berkala yang direncanakan dan realisasi pelaksanaannya.
Work Log dan Timestamp
Memberikan informasi waktu yang diperlukan untuk menganalisis aktivitas maintenance.
Cost dan Spare Part Data
Jika sebagian pekerjaan ada di spreadsheet, sebagian melalui chat, dan sebagian tidak dicatat, kualitas analisis KPI juga dapat menurun.
Dashboard yang lengkap tetap bergantung pada kualitas data yang digunakan di belakangnya.
Bagaimana Data CMMS Membantu Monitoring KPI Maintenance?

Computerized Maintenance Management System atau CMMS dapat membantu perusahaan membuat aktivitas maintenance lebih terstruktur sehingga data operasional lebih mudah ditelusuri dan dianalisis.
Alur sederhananya dapat berupa:
Asset → Inspection → Work Request → Work Order → Maintenance Activity → Completion → Maintenance Record → Dashboard & Analysis → Data for KPI Monitoring
Hubungan antara work-order data dan maintenance KPI juga didukung oleh penelitian NIST yang menunjukkan bagaimana data maintenance work order dapat digunakan untuk membentuk indikator performa maintenance.
Namun, perlu dibedakan antara menyediakan data untuk analisis KPI dan secara otomatis menghitung semua KPI.
Kemampuan kalkulasi dan dashboard setiap CMMS dapat berbeda. Formula, data source, serta konfigurasi yang dibutuhkan perusahaan juga perlu diverifikasi pada sistem yang digunakan.
Jika ingin memahami fungsi dasarnya terlebih dahulu, baca Apa Itu CMMS? Pengertian, Fungsi, Cara Kerja, dan Manfaatnya di Netmarks Indonesia.
Bagaimana Inspekly Mendukung Pengelolaan Data Maintenance?
Inspekly merupakan platform CMMS dan Enterprise Asset Management (EAM) yang digunakan Netmarks Indonesia untuk digitalisasi workflow maintenance dan asset management.
Berdasarkan informasi resmi Inspekly, fitur yang tersedia antara lain:
pembuatan dan pengelolaan work order,
pengaitan pekerjaan dengan data aset,
preventive maintenance scheduling,
maintenance checklist,
QR asset tag,
work log,
timestamp,
data lokasi,
dokumentasi visual,
overdue notification,
digital report,
live progress dashboard,
serta analisis tren work order.
Inspekly juga menjelaskan bahwa work order dapat dibuat melalui aplikasi dan kemudian direview, assigned, serta ditrack melalui Data Portal. Pada sisi preventive maintenance, Inspekly menyediakan recurring maintenance schedule dan monitoring progress melalui dashboard.
Informasi resmi Inspekly juga menyebut KPI tracking untuk melihat area seperti downtime, cost, dan team performance pada salah satu implementasi platformnya.
Kebutuhan tersebut perlu diverifikasi berdasarkan konfigurasi, data yang tersedia, dan scope implementasi perusahaan. Pelajari lebih lanjut mengenai CMMS & EAM Inspekly dari Netmarks Indonesia untuk melihat fungsi work order, asset management, inspection, reporting, dan dashboard yang tersedia.
Dari Data Maintenance Menjadi Informasi untuk Keputusan
Dashboard bukan tujuan akhir dari maintenance management.
Nilai utama dari data muncul ketika tim dapat menggunakannya untuk menjawab pertanyaan seperti:
Aset mana yang paling sering mengalami masalah?
Jenis failure apa yang berulang?
Pekerjaan mana yang paling sering overdue?
Apakah preventive maintenance berjalan sesuai rencana?
Apakah downtime berubah dari periode sebelumnya?
Apakah pekerjaan tertentu terus berulang pada aset yang sama?
NIST menempatkan monitoring dan evaluasi KPI sebagai bagian yang dapat membantu mengidentifikasi area operasi yang membutuhkan improvement.
Karena itu, workflow ideal tidak berhenti pada:
Data → Dashboard
Tetapi berkembang menjadi:
Data → KPI → Analisis → Prioritas → Tindakan → Evaluasi
Kesalahan Umum Saat Menggunakan KPI Maintenance
Mengukur Terlalu Banyak KPI
Semakin banyak angka tidak otomatis menghasilkan keputusan yang lebih baik.
Prioritaskan KPI yang berkaitan langsung dengan masalah utama perusahaan.
Tidak Menyamakan Definisi
Jika satu lokasi mendefinisikan failure berbeda dengan lokasi lain, angka MTBF antararea bisa sulit dibandingkan.
Definisi data harus jelas sebelum KPI dihitung.
Melihat Angka Tanpa Konteks
MTTR turun belum tentu selalu berarti kondisi membaik.
Periksa juga recurring failure, quality of repair, dan kondisi aset.
Membandingkan Aset yang Tidak Comparable
Mesin dengan fungsi, usia, operating hours, atau kondisi lingkungan berbeda tidak selalu tepat dibandingkan secara langsung.
Work Order Tidak Lengkap
Work order yang ditutup tanpa informasi yang memadai membuat data sulit digunakan untuk analisis selanjutnya.
Fokus pada Dashboard, Bukan Data Source
Visualisasi yang baik tidak dapat memperbaiki data yang tidak konsisten.
Mengejar Target Tanpa Menganalisis Penyebab
KPI sebaiknya digunakan sebagai sinyal untuk memahami kondisi operasi, bukan sekadar angka yang harus dibuat terlihat bagus.
FAQ KPI Maintenance
Apa itu KPI maintenance?
KPI maintenance adalah indikator yang digunakan untuk mengukur performa maintenance terhadap tujuan tertentu, misalnya reliability aset, waktu perbaikan, availability, downtime, penyelesaian preventive maintenance, atau pengendalian pekerjaan maintenance.
Apa perbedaan MTBF dan MTTR?
MTBF menunjukkan rata-rata waktu operasi di antara failure, sedangkan MTTR menunjukkan rata-rata waktu repair setelah failure terjadi. MTBF lebih berkaitan dengan reliability, sedangkan MTTR membantu melihat maintainability dan proses pemulihan equipment.
Apa KPI untuk mengukur downtime?
Downtime dapat diukur secara langsung melalui total durasi aset tidak tersedia. Analisis dapat dilengkapi dengan MTBF, MTTR, availability, failure frequency, dan penyebab downtime untuk memberikan konteks yang lebih lengkap.
Apa KPI untuk preventive maintenance?
KPI yang dapat digunakan bergantung pada tujuan perusahaan. Beberapa contoh yang dapat dipertimbangkan antara lain PM Compliance, Schedule Compliance, Planned Maintenance Percentage, maintenance backlog, MTBF, dan failure frequency.
Apakah MTBF yang tinggi selalu baik?
Secara umum, peningkatan MTBF menunjukkan bahwa waktu operasi di antara failure menjadi lebih panjang. Namun nilainya tetap harus dianalisis berdasarkan jenis aset, operating condition, definisi failure, periode pengukuran, dan histori performanya.
Berapa nilai MTTR yang ideal?
Tidak ada satu nilai MTTR yang ideal untuk semua jenis aset dan industri. Target perlu mempertimbangkan criticality, complexity of repair, operating environment, spare part availability, safety requirement, dan kondisi operasional lainnya.
Apakah semua perusahaan harus menggunakan KPI maintenance yang sama?
Tidak. KPI sebaiknya dipilih berdasarkan jenis aset, operational objective, criticality, workflow maintenance, dan data yang tersedia.
Bagaimana CMMS membantu monitoring KPI maintenance?
CMMS membantu membuat data maintenance seperti asset record, work order, preventive maintenance, work log, dan maintenance history lebih terstruktur. Data tersebut dapat menjadi sumber untuk reporting dan analisis KPI sesuai kebutuhan perusahaan.
Gunakan KPI Maintenance untuk Mengambil Keputusan yang Lebih Terukur
KPI maintenance membantu perusahaan mengubah data aktivitas pemeliharaan menjadi informasi yang dapat dievaluasi. MTBF dapat membantu melihat pola reliability. MTTR menunjukkan waktu yang dibutuhkan untuk repair. Availability dan downtime memberikan gambaran mengenai kesiapan aset, sementara PM Compliance, Schedule Compliance, dan backlog dapat membantu mengevaluasi bagaimana pekerjaan maintenance direncanakan dan diselesaikan. Namun, rumus bukan bagian tersulit dari monitoring KPI. Fondasi utamanya adalah data yang konsisten.
Work order perlu terhubung dengan aset yang benar. Failure perlu dicatat dengan definisi yang sama. Waktu pekerjaan perlu terdokumentasi. Preventive maintenance perlu memiliki schedule dan completion record yang dapat ditelusuri.
Dengan fondasi tersebut, perusahaan dapat bergerak dari sekadar membuat laporan maintenance menuju proses yang lebih terukur:
Data → KPI → Analisis → Keputusan → Improvement
Untuk perusahaan yang ingin mendigitalisasi workflow maintenance, CMMS & EAM Inspekly dari Netmarks Indonesia menyediakan fungsi work order management, asset management, preventive maintenance, inspection, reporting, dan centralized dashboard. Diskusikan workflow, aset prioritas, dan kebutuhan monitoring maintenance perusahaan Anda bersama Netmarks Indonesia untuk melihat konfigurasi Inspekly yang relevan.
Referensi
National Institute of Standards and Technology (NIST)Developing Maintenance Key Performance Indicators from Maintenance Work Order Data.
National Institute of Standards and Technology (NIST)A Hierarchical Structure of Key Performance Indicators for Operation Improvement in Production Systems.
International Organization for Standardization (ISO)ISO 22400-1:2014 — Key Performance Indicators for Manufacturing Operations Management: Overview, Concepts and Terminology.
International Organization for Standardization (ISO)ISO 22400-2:2014 — Key Performance Indicators for Manufacturing Operations Management: Definitions and Descriptions.
Inspekly : Inspekly CMMS — Work Orders, Asset Management, Preventive Maintenance, Digital Reporting and Dashboard.
Netmarks Indonesia : CMMS Software & Enterprise Asset Management (EAM) Powered by Inspekly.




Comments